SMK Muhammadiyah 1 Tempel Gelar Sosialisasi Pendidikan Khas Kejogjaan Bertema “NGAJENI”

___

Prof. Dr. Suwarna, M.Pd. menyampaikan materi Sosialisasi Pendidikan Khas Kejogjaan bertema “NGAJENI: Membangun Budaya Hormat, Santun, dan Harmoni Sosial” di Aula SMK Muhammadiyah 1 Tempel, Senin (15/6/2026).

Tempel, 15 Juni 2026 – SMK Muhammadiyah 1 Tempel menyelenggarakan Sosialisasi Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) bertema “NGAJENI: Membangun Budaya Hormat, Santun, dan Harmoni Sosial” pada Senin (15/6) di Aula SMK Muhammadiyah 1 Tempel. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Suwarna, M.Pd. sebagai narasumber dan diikuti oleh seluruh warga sekolah sebagai bagian dari penguatan karakter berbasis budaya Yogyakarta.

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Suwarna menjelaskan bahwa NGAJENI merupakan salah satu nilai utama dalam Pendidikan Khas Kejogjaan yang mengajarkan sikap menghargai dan menghormati orang lain melalui tata krama serta perilaku santun dalam kehidupan sehari-hari. Nilai ini menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter pelajar yang berakhlak mulia, berbudaya, dan mampu hidup harmonis di tengah masyarakat yang beragam.

Beliau menjelaskan bahwa Gerakan NGAJENI diwujudkan melalui tujuh pilar nilai dan tindakan utama, yaitu:

  1. NGA (Ngapurancang), yaitu membiasakan sikap melipat tangan di depan tubuh saat berdiri, berjalan melewati orang yang lebih tua, atau ketika mendengarkan orang lain sebagai bentuk penghormatan.
  2. JE (Jempol), yaitu menggunakan ibu jari (jempol) tangan kanan saat menunjuk atau mempersilakan seseorang sebagai bentuk kesopanan.
  3. N (Nuwun Sewu/Ndherek Langkung), yaitu mengucapkan “permisi” ketika melewati orang lain atau memasuki suatu ruangan.
  4. N (Nyuwun Pangapunten), yaitu membiasakan diri meminta maaf apabila melakukan kesalahan.
  5. M (Matur Nuwun), yaitu mengucapkan terima kasih setelah menerima bantuan, pelayanan, maupun pemberian dari orang lain.
  6. A (Mangga/Monggo), yaitu menggunakan kata-kata yang santun saat mempersilakan seseorang duduk, makan, atau melakukan suatu kegiatan.
  7. I (Inggih), yaitu menjawab dengan bahasa yang sopan dan santun sebagai bentuk penghormatan kepada lawan bicara.

Menurut Prof. Dr. Suwarna, penerapan tujuh pilar tersebut tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga sarana untuk menumbuhkan karakter hormat, empati, dan tanggung jawab sosial di kalangan generasi muda. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat diterapkan baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.

Kegiatan sosialisasi berlangsung dengan penuh antusias. Para peserta menyimak materi yang disampaikan dan diajak untuk merefleksikan pentingnya menjaga tata krama di era modern tanpa meninggalkan identitas budaya lokal. Melalui kegiatan ini, peserta didik diharapkan mampu menjadi generasi yang unggul secara akademik sekaligus memiliki karakter yang santun, beretika, dan menghargai sesama.


Dengan terselenggaranya kegiatan ini, SMK Muhammadiyah 1 Tempel terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung implementasi Pendidikan Khas Kejogjaan sebagai upaya melestarikan nilai-nilai budaya luhur Yogyakarta sekaligus membentuk peserta didik yang berkarakter, berbudaya, dan siap menghadapi tantangan masa depan tanpa kehilangan jati diri.

#Berita
SHARE :
Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin
LINK TERKAIT